Cara Cek SEO Website Gratis dengan PageSpeed Insights dan Alat Resmi Google
Cara cek SEO website gratis memakai PageSpeed Insights, Lighthouse, Rich Results Test, dan Search Console, plus cara membaca hasilnya baris demi baris.

Tangkapan layar laporan Lighthouse 13.4.1 mode seluler untuk kelolakonten.com, diambil 14 Oktober 2026. Perhatikan kalimat di bawah skor 100. Tampilan dan merek milik pemiliknya.
Untuk cek SEO website gratis, mulai dari empat alat resmi: PageSpeed Insights untuk kecepatan dan pengalaman pengguna, kategori SEO di Lighthouse untuk dasar teknis halaman, Rich Results Test untuk data terstruktur, dan Search Console untuk status indeks. Skor SEO 100 belum berarti halamanmu akan naik peringkat, karena alat ini hanya memeriksa dasar teknis. Urutan paling aman adalah memastikan halaman terindeks dulu, baru mengejar kecepatan dan detail lain.
Pengungkapan: artikel ini menautkan Creativism, usaha yang satu keluarga dengan Belajar Marketing. Tautannya bukan iklan berbayar, tetapi tetap produk kami sendiri. Baca hubungan kami.
Daftar isi
Cek SEO website artinya memeriksa apakah halamanmu bisa ditemukan, diindeks, dan nyaman dibuka, sehingga punya peluang tampil di Google. Kabar baiknya, kamu bisa melakukannya gratis dengan alat resmi Google: PageSpeed Insights, Lighthouse di Chrome, Rich Results Test, dan Search Console. Di artikel ini kamu akan menjalankan keempatnya langkah demi langkah, lalu belajar membaca hasilnya baris demi baris, bukan sekadar melihat angka hijau atau merah.
Supaya tidak teoritis, semua tangkapan layar di bawah berasal dari pengujian sungguhan yang kami jalankan pada 14 Oktober 2026 terhadap kelolakonten.com dan satu artikel creativism.id, dua situs yang dibangun tim Creativism. Kalau kamu belum terlalu paham dasar-dasarnya, baca dulu penjelasan apa itu SEO dan cara kerjanya supaya istilah di bawah terasa lebih akrab.
Apa yang sebenarnya diperiksa saat kamu cek SEO website?
Sebelum membuka alat apa pun, pahami dulu apa yang sedang kamu ukur. Google Search Central menjelaskan bahwa Google Search bekerja dalam tiga tahap: perayapan (crawling, robot Google mengunduh teks dan gambar dari halaman), pengindeksan (indexing, isi halaman dianalisis lalu disimpan di indeks Google), dan penayangan hasil (serving, halaman yang relevan ditampilkan saat orang mencari). Di halaman yang sama Google menegaskan bahwa tidak semua halaman lolos setiap tahap.
Jadi, cek SEO yang benar sebetulnya menjawab tiga pertanyaan:
- Bisakah Google menemukan dan mengindeks halaman ini? Kalau tidak, semua usaha lain sia-sia.
- Apakah halaman ini nyaman dibuka pengunjung? Di sini masuk kecepatan dan stabilitas tampilan, yang diukur lewat Core Web Vitals.
- Apakah sinyal di halaman sudah jelas? Misalnya title, meta description, teks alt gambar, dan data terstruktur. Kelompok ini biasa disebut SEO on-page.
Yang jarang dibahas: tidak ada satu alat pun yang menjawab ketiganya sekaligus. PageSpeed Insights kuat di pertanyaan kedua, cukup membantu di pertanyaan ketiga, dan hampir tidak menjawab pertanyaan pertama. Itulah kenapa kami selalu memakai beberapa alat sekaligus, dan kenapa skor tunggal sering menyesatkan.
Jangan kejar angka 100. Saat kami menjalankan Lighthouse untuk kelolakonten.com, kategori SEO-nya 100. Tepat di bawah angka itu, laporannya menulis bahwa pemeriksaan ini hanya memastikan saran SEO dasar, dan masih banyak faktor lain di luar skor yang dapat memengaruhi peringkat. Google pun di panduan cara kerja Search menyatakan tidak menjamin akan merayapi, mengindeks, atau menampilkan halaman, bahkan bila halaman itu mengikuti Search Essentials.
Alat resmi Google yang gratis untuk cek SEO
Ada banyak alat cek SEO pihak ketiga, dan sebagian bagus. Tapi untuk cek SEO website pertama kalinya, kami menyarankan mulai dari alat resmi Google dulu: gratis, datanya langsung dari pihak yang menjalankan mesin pencari, dan dokumentasinya terbuka. Berikut perbandingannya:
| Alat | Yang diperiksa | Perlu login? | Kapan dipakai |
|---|---|---|---|
| PageSpeed Insights | Data pengguna nyata (Core Web Vitals) dan skor lab Lighthouse untuk performa, aksesibilitas, praktik terbaik, SEO | Tidak | Cek cepat satu halaman, ponsel dan desktop |
| Lighthouse di Chrome DevTools | Audit yang sama dengan bagian lab PageSpeed Insights, dijalankan dari browsermu | Tidak | Halaman yang belum publik atau butuh login |
| Pengujian Hasil Multimedia (Rich Results Test) | Data terstruktur dan kelayakan hasil kaya di Google | Kadang diminta | Setelah memasang markup produk, artikel, atau resep |
| Schema Markup Validator | Sintaks data terstruktur sesuai standar schema.org | Tidak | Cadangan bila Rich Results Test meminta login |
| Google Search Console | Status indeks, laporan masalah, kueri pencarian | Ya, plus verifikasi situs atau akses dari pemiliknya | Pemantauan rutin seluruh situs |
Operator site: di Google | Contoh halaman yang sudah diketahui Google | Tidak | Cek cepat apakah halaman sudah masuk indeks |
Beberapa catatan dari dokumentasi resminya. Dokumentasi PageSpeed Insights menyebut alat ini menyediakan data lab dan data lapangan sekaligus, dan bagian labnya dijalankan dengan Lighthouse untuk kategori Performance, Accessibility, Best Practices, dan SEO. Halaman pengantar Lighthouse menjelaskan bahwa Lighthouse bisa dijalankan di Chrome DevTools pada halaman publik maupun halaman yang butuh login.
Schema Markup Validator dulunya adalah Structured Data Testing Tool milik Google. Lewat Google Search Central Blog, Google mengumumkan alat itu dipindahkan ke domain baru untuk komunitas schema.org, dengan fungsi utama memeriksa sintaks markup, dan tidak lagi memeriksa jenis hasil kaya Google Search. Jadi untuk urusan "apakah markup saya bisa memunculkan tampilan kaya", tetap Rich Results Test yang jadi rujukan.
Terakhir, Search Console adalah layanan gratis dari Google untuk memantau dan memperbaiki kehadiran situs di hasil penelusuran. Kamu tidak wajib mendaftar agar situsmu muncul di Google, tetapi tanpa Search Console kamu hanya menebak-nebak. Aksesnya didapat dengan memverifikasi kepemilikan situs, atau dengan ditambahkan sebagai pengguna oleh pemilik properti, misalnya oleh orang yang membuatkan website-mu.
Cara cek SEO website dengan PageSpeed Insights, langkah demi langkah
Bagian ini praktiknya. Untuk cek SEO website pertamamu, siapkan satu URL yang paling penting bagi usahamu, misalnya halaman produk terlaris atau halaman kontak, bukan hanya beranda. Menurut kami, untuk toko online kecil halaman produk paling layak diperiksa lebih dulu, karena pembeli dari Google bisa langsung mendarat di sana tanpa melewati beranda.
Langkah dicek pada , PageSpeed Insights versi web dan API (Lighthouse 13.5.0), Lighthouse 13.4.1 di Google Chrome, Pengujian Hasil Multimedia (Rich Results Test), dan Schema Markup Validator, tampilan 14 Oktober 2026.
Langkah 1: Tempel URL di PageSpeed Insights
Buka pagespeed.web.dev, tempel alamat halaman yang ingin kamu cek (misalnya beranda atau halaman produk terlaris), lalu klik Analisis. Tidak perlu login.

Tangkapan layar PageSpeed Insights, diambil 14 Oktober 2026. Tampilan dan merek milik pemiliknya. Bagian yang ditandai: 1 URL halaman, 2 Analisis. Langkah 2: Baca data lapangan dan data lab
Lihat dulu bagian data pengguna nyata (Core Web Vitals) bila tersedia, lalu empat skor kategori di bawahnya. Bandingkan hasil ponsel dan desktop, karena keduanya diuji terpisah.
Langkah 3: Periksa daftar audit kategori SEO
Buka kategori SEO dan perhatikan audit yang gagal lebih dulu. Daftar audit yang lolos membantu kamu memastikan dasar seperti title, meta description, status HTTP, dan canonical sudah benar.

Tangkapan layar daftar pemeriksaan SEO yang lolos di laporan Lighthouse kelolakonten.com, diambil 14 Oktober 2026. Tampilan dan merek milik pemiliknya. Bagian yang ditandai: 3 Audit SEO yang lolos. Langkah 4: Uji data terstruktur
Tempel URL yang sama di Pengujian Hasil Multimedia lalu klik Uji URL. Bila pengujian meminta login, pakai Schema Markup Validator yang bisa dipakai tanpa akun.

Tangkapan layar Pengujian Hasil Multimedia (Rich Results Test), diambil 14 Oktober 2026. Tampilan dan merek milik pemiliknya. Bagian yang ditandai: 4 URL halaman, 5 Uji URL. Langkah 5: Baca hasil Pengujian Hasil Multimedia
Tunggu sampai halaman hasil muncul. Baca kotak ringkasan jumlah item valid, lalu gulir ke bawah dan klik tiap jenis data terstruktur untuk melihat kesalahan atau masalah non-kritis.

Tangkapan layar hasil Pengujian Hasil Multimedia tanpa login untuk salah satu artikel creativism.id, diambil 14 Oktober 2026. Tampilan dan merek milik pemiliknya. Bagian yang ditandai: 6 Ringkasan item valid, 7 Item per jenis. Langkah 6: Baca hasil validasi markup (bila memakai Schema Markup Validator)
Di Schema Markup Validator, lihat panel kanan: jumlah item yang terdeteksi, lalu kolom kesalahan dan peringatan per jenis markup.

Tangkapan layar Schema Markup Validator untuk salah satu artikel creativism.id, diambil 14 Oktober 2026. Tampilan dan merek milik pemiliknya. Bagian yang ditandai: 8 Ringkasan, 9 Item per jenis. Langkah 7: Pastikan halaman sudah terindeks
Ketik
site:diikuti alamat lengkap halamanmu di Google. Kalau sudah memverifikasi situs di Search Console, pakai Inspeksi URL untuk melihat status indeks yang lebih pasti.
Dua kebiasaan kecil yang membuat hasil cek jauh lebih berguna. Pertama, uji minimal tiga jenis halaman (beranda, satu artikel atau kategori, dan satu halaman produk), karena masalah sering hanya muncul di template tertentu. Kedua, simpan tangkapan layar dan tanggal pengujian. Tanpa catatan itu, bulan depan kamu tidak bisa membuktikan apakah perbaikanmu berhasil.
Contoh ilustrasi: sebuah toko kue rumahan yang berjualan lewat Shopee dan juga punya website sendiri. Berandanya ringan dan hijau semua, tetapi halaman katalognya memuat puluhan foto berukuran besar. Kalau pemiliknya hanya mengecek beranda, masalah di katalog tidak akan pernah terlihat, padahal katalog itulah yang dicari pembeli.
Cara membaca hasil PageSpeed Insights baris demi baris
Laporan PageSpeed Insights punya dua lapis yang sering tertukar. Memahami bedanya adalah separuh pekerjaan membaca hasil cek SEO.
Data lapangan: pengalaman pengunjung sungguhan
Bagian atas laporan berisi data dari Chrome User Experience Report (CrUX). Dokumentasi PageSpeed Insights menjelaskan data ini merangkum pengalaman pengguna nyata selama 28 hari terakhir, dan halaman baru atau sepi pengunjung bisa saja belum punya cukup data. Ini bukan sekadar teori: saat kami menguji kelolakonten.com lewat API PageSpeed Insights pada 14 Oktober 2026, bagian data pengguna nyatanya kosong, baik untuk halaman itu maupun untuk situsnya secara keseluruhan. Kalau kamu mengalami hal yang sama, pakai data lab sebagai gambaran sementara. Angka yang ditampilkan adalah persentil ke-75, artinya tiga perempat kunjungan sama atau lebih baik dari angka itu.
Ambang yang dipakai, menurut web.dev dan tabel di dokumentasi PageSpeed Insights:
| Metrik | Mengukur | Baik | Perlu perbaikan | Buruk |
|---|---|---|---|---|
| LCP (Largest Contentful Paint) | Seberapa cepat elemen utama halaman tampil | sampai 2,5 detik | 2,5 sampai 4 detik | di atas 4 detik |
| INP (Interaction to Next Paint) | Seberapa cepat halaman merespons klik atau ketukan | sampai 200 ms | 200 sampai 500 ms | di atas 500 ms |
| CLS (Cumulative Layout Shift) | Seberapa banyak tampilan bergeser saat dimuat | sampai 0,1 | 0,1 sampai 0,25 | di atas 0,25 |
Halaman lulus penilaian Core Web Vitals bila persentil ke-75 ketiga metrik itu berada di kategori baik. Apakah ini memengaruhi peringkat? Google Search Central menyarankan pemilik situs mencapai Core Web Vitals yang baik untuk keberhasilan di Search, dan menyebut hal ini sejalan dengan apa yang ingin dihargai sistem peringkat utamanya. Perhatikan pilihan katanya: disarankan, bukan jaminan.
Data lab: empat skor kategori
Di bawahnya ada skor 0 sampai 100 untuk empat kategori Lighthouse: Performance, Accessibility, Best Practices, dan SEO. Dokumentasi PageSpeed Insights menyebut skor 90 ke atas baik, 50 sampai 89 perlu perbaikan, dan di bawah 50 buruk. Skor ini berasal dari simulasi pemuatan di satu perangkat dengan kondisi jaringan tetap, dan menurut bagian tanya jawab dokumentasi yang sama, skor performa bisa berubah antar pengujian karena variasi jaringan, perangkat keras, dan beban di sisi penguji. Jadi jangan panik kalau angkanya bergeser saat kamu menguji ulang.

Contoh nyata dari pengujian kami: kelolakonten.com mendapat SEO 100 dan Best Practices 100, tetapi Accessibility 93 karena dua temuan, yaitu kontras warna latar dan teks yang kurang serta tautan yang hanya dibedakan lewat warna. Tangkapan layar di atas berasal dari Lighthouse 13.4.1 yang kami jalankan langsung di Chrome tanpa kategori Performance, dan versi ini menampilkan kategori tambahan Agentic Browsing yang menurut keterangan laporannya masih dalam pengembangan. Saat kami menguji halaman yang sama lewat API PageSpeed Insights di hari yang sama (memakai Lighthouse 13.5.0), hasilnya Performance 97, Accessibility 93, Best Practices 100, dan SEO 100, dengan dua temuan aksesibilitas yang sama. Menurut kami, temuan kecil seperti ini justru yang paling berharga, karena skor tinggi membuat orang berhenti membaca padahal masalahnya tertulis jelas di bawah.
Kategori SEO: pemeriksaan dasar yang wajib lolos
Kategori SEO berisi pemeriksaan seperti halaman tidak diblokir dari pengindeksan, ada elemen title, ada meta description, status HTTP berhasil, tautan bisa dirayapi, robots.txt valid, gambar punya atribut alt, serta hreflang dan canonical yang valid. Satu hal yang perlu kamu tahu: dokumentasi Lighthouse soal meta description menulis bahwa Lighthouse tidak menilai kualitas deskripsimu. Deskripsi asal-asalan pun tetap lolos selama elemennya ada.
Jadi kategori SEO paling tepat dibaca seperti daftar periksa kelengkapan, bukan rapor kualitas. Kalau ada audit yang gagal, perbaiki segera karena biasanya mudah. Kalau semuanya lolos, lanjutkan ke pertanyaan yang lebih penting: apakah isi halamannya benar-benar menjawab kebutuhan pencari, dan apakah halaman itu punya tautan masuk yang cukup (bahasannya ada di panduan cara cek backlink).
Cek data terstruktur dan status indeks dengan alat Google lainnya
Kecepatan dan kelengkapan tag sudah beres? Saatnya dua pemeriksaan yang sering terlewat.
Data terstruktur
Data terstruktur adalah kode tambahan (biasanya JSON-LD) yang memberi tahu Google jenis isi halaman, misalnya artikel, produk, atau resep. Pusat bantuan Rich Results Test menyebut alat ini mendukung format JSON-LD, RDFa, dan Microdata, dan secara bawaan menguji dengan agen pengguna ponsel. Kami mencobanya tanpa login dua kali pada 14 Oktober 2026. Percobaan pertama berhenti dengan pesan yang meminta login. Percobaan kedua di hari yang sama berjalan normal tanpa login dan mendeteksi 4 item valid untuk artikel creativism.id yang sama. Tangkapan layar di langkah tutorial hanya memuat bagian atas daftarnya, yaitu Artikel dan Breadcrumb; sisanya baru terlihat bila halaman hasil digulir. Sebagai pembanding, kode JSON-LD halaman itu memang memuat markup Article, BreadcrumbList, dan Organization. Beberapa percobaan berikutnya pada malam yang sama kembali meminta login, jadi kalau pengujianmu meminta login, coba ulang beberapa saat kemudian, atau pakai Schema Markup Validator sebagai cadangan. Untuk URL yang sama, validator itu menampilkan dua item (hentry dan Article) tanpa kesalahan maupun peringatan. Jumlah item kedua alat bisa berbeda, jadi jangan bandingkan angkanya, karena tujuan kedua alat memang tidak sama seperti dijelaskan di atas.
Dua hal yang perlu kamu pegang. Pertama, pedoman data terstruktur Google menegaskan Google tidak menjamin data terstrukturmu muncul di hasil penelusuran, meskipun markup-nya benar menurut Rich Results Test. Kedua, jenis tampilan kaya yang didukung Google bisa berubah. Tahun 2023 Google membatasi hasil kaya FAQ hanya untuk situs pemerintah dan kesehatan yang dikenal luas dan berhenti menampilkan hasil kaya How-to, lalu menurut catatan perubahan dokumentasi Google Search, hasil kaya FAQ tidak lagi tampil di Google Search mulai 7 Mei 2026. Jadi kalau ada yang menjanjikan "pasang schema FAQ biar tampil menonjol", kamu sudah tahu jawabannya.
Status indeks
Cara tercepat: ketik site: diikuti alamat halaman di kolom pencarian Google. Tapi hati-hati menarik kesimpulan. Dokumentasi operator site: menyebut operator ini tidak selalu menampilkan semua URL yang terindeks, jadi jangan dipakai untuk menghitung jumlah halaman terindeks.
Untuk jawaban yang pasti, pakai Search Console. Alat Inspeksi URL menampilkan informasi versi halaman yang tersimpan di indeks, bisa menguji URL secara langsung, dan bisa dipakai untuk meminta Google merayapi ulang halaman itu. Jumlah inspeksinya dibatasi per hari untuk setiap properti. Menariknya, halaman bantuan laporan pengindeksan menyebut situs dengan kurang dari 500 halaman kemungkinan tidak perlu laporan itu, cukup memakai pencarian site: untuk halaman-halaman pentingnya. Kabar baik untuk sebagian besar website UMKM.
Urutan memperbaiki hasil cek SEO untuk website kecil
Setelah empat alat dijalankan, biasanya kamu memegang daftar temuan yang panjang. Kesalahan paling umum yang kami lihat: semua temuan dikerjakan sekaligus, dimulai dari yang paling merah di PageSpeed Insights. Padahal urutannya menentukan.

Urutan yang kami sarankan:
- Indeks dulu. Halaman penting yang tidak muncul di
site:atau berstatus tidak terindeks di Inspeksi URL adalah prioritas nomor satu. Periksa robots.txt, tag noindex, dan apakah halaman itu masuk sitemap. - Data lapangan yang buruk. Kalau LCP, INP, atau CLS pengguna nyata masuk kategori buruk, itu masalah yang dirasakan pembeli setiap hari. Di website toko kecil, dua penyebab yang paling sering kami temui adalah gambar besar tanpa kompresi dan plugin yang berlebihan.
- Audit SEO yang gagal. Biasanya cepat diperbaiki: title kosong, meta description hilang, gambar tanpa alt, canonical salah.
- Data terstruktur. Perbaiki error markup, tetapi jangan berharap tampilan kaya langsung muncul.
- Skor lab di atas 90. Bagus untuk dikejar, tetapi menurut kami ini urutan terakhir. Halaman dengan skor performa 75 yang terindeks dan menjawab pertanyaan pembeli lebih berguna daripada halaman skor 100 yang tidak pernah tampil di SERP.
Dari pengalaman kami, langkah 1 sampai 3 umumnya bisa dikerjakan sendiri oleh pemilik usaha, terutama di WordPress atau pembuat website siap pakai. Yang mulai butuh bantuan teknis biasanya langkah 2: mengurangi skrip pihak ketiga, mengatur cache, atau mengganti tema yang berat. Kalau website-mu adalah landing page untuk iklan, langkah 2 bahkan lebih penting, karena pengunjung berbayar yang menunggu terlalu lama bisa pergi sebelum halaman selesai dimuat.
Satu kebiasaan terakhir: jadwalkan pengecekan rutin. Panduan memulai Search Console menyarankan membuka akun kira-kira sebulan sekali atau saat kamu mengubah konten situs. Masukkan ke kalender bersama jadwal tutup buku bulanan, supaya cek SEO website tidak hanya terjadi saat penjualan sedang turun. Kalau ada istilah yang membingungkan selama proses ini, kamu bisa bertanya ke asisten tanya jawab Belajar Marketing, atau kembali ke daftar materi SEO dan website untuk belajar bertahap.
Untuk bacaan lanjutan tentang elemen yang diperiksa kategori SEO tadi, artikel apa itu SEO on-page di blog Creativism membahas title, heading, dan struktur konten lebih rinci.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah cek SEO website dengan PageSpeed Insights gratis?
Gratis dan tidak perlu login. Kamu cukup menempelkan URL di pagespeed.web.dev lalu klik Analisis. Alat resmi Google lain yang dibahas di sini, yaitu Lighthouse di Chrome, Rich Results Test, dan Search Console, juga gratis. Search Console hanya meminta kamu memverifikasi kepemilikan situs, atau ditambahkan sebagai pengguna oleh pemiliknya.
Kalau skor SEO di PageSpeed Insights sudah 100, apakah website pasti di halaman satu Google?
Tidak. Laporan Lighthouse sendiri menulis bahwa pemeriksaan SEO-nya hanya memastikan saran dasar, dan masih banyak faktor lain di luar skor itu yang dapat memengaruhi peringkat. Google juga menyatakan tidak menjamin akan merayapi, mengindeks, atau menampilkan halaman meskipun halaman mengikuti Google Search Essentials.
Berapa skor PageSpeed Insights yang dianggap baik?
Untuk skor kategori dari data lab, dokumentasi PageSpeed Insights menyebut 90 ke atas baik, 50 sampai 89 perlu perbaikan, dan di bawah 50 buruk. Untuk data pengguna nyata, patokannya Core Web Vitals: LCP paling lama 2,5 detik, INP paling lama 200 milidetik, dan CLS paling tinggi 0,1.
Kenapa hasil PageSpeed Insights berubah padahal saya tidak mengubah apa pun?
Dokumentasi PageSpeed Insights menyebut skor performa memang bisa berubah antar pengujian karena variasi jaringan, perangkat keras, dan beban di sisi penguji. Data lapangan berbeda sifatnya, karena merangkum pengalaman pengguna Chrome sungguhan selama 28 hari terakhir, bukan satu kali uji. Dokumentasi yang sama juga mengingatkan bahwa data lab yang bagus belum tentu berarti pengalaman pengguna nyata juga bagus, jadi bila data lapangan tersedia, jadikan itu patokan utama.
Apa beda PageSpeed Insights dan Google Search Console?
PageSpeed Insights memeriksa satu URL sekali jalan, siapa pun bisa memakainya untuk situs apa pun. Search Console memantau seluruh situsmu dari waktu ke waktu, termasuk status indeks dan laporan masalah, tetapi hanya untuk situs yang kepemilikannya sudah kamu verifikasi atau yang pemiliknya memberimu akses sebagai pengguna.
Seberapa sering saya perlu cek SEO website?
Panduan Search Console menyarankan membuka akun kira-kira sebulan sekali, atau saat kamu mengubah konten situs. Untuk usaha kecil, ritme bulanan itu cukup, ditambah pengecekan ulang setiap kali mengganti tema, menambah plugin, atau meluncurkan halaman penting.
Kenapa data pengguna nyata di PageSpeed Insights kosong?
Data pengguna nyata berasal dari Chrome User Experience Report, yang merangkum pengalaman pengguna Chrome sungguhan selama 28 hari terakhir. Dokumentasi PageSpeed Insights menyebut halaman baru atau yang sepi pengunjung bisa saja belum punya cukup data. Kami mengalaminya sendiri saat menguji kelolakonten.com pada 14 Oktober 2026. Selama data itu kosong, pakai skor lab sebagai gambaran sementara.
Sumber
- About PageSpeed Insights Google for Developers (developers.google.com), diakses
- Web Vitals web.dev (Google) (web.dev), diakses
- Understanding Core Web Vitals and Google search results Google Search Central (developers.google.com), diakses
- Introduction to Lighthouse Chrome for Developers (developer.chrome.com), diakses
- Document does not have a meta description Chrome for Developers (developer.chrome.com), diakses
- In-depth guide to how Google Search works Google Search Central (developers.google.com), diakses
- Rich Results Test Search Console Help (support.google.com), diakses
- General structured data guidelines Google Search Central (developers.google.com), diakses
- Changes to HowTo and FAQ rich results Google Search Central Blog (developers.google.com), diakses
- Latest Google Search Documentation Updates (Deprecating the FAQ rich result feature) Google Search Central (developers.google.com), diakses
- Managing owners, users, and permissions Search Console Help (support.google.com), diakses
- An update on the Structured Data Testing Tool Google Search Central Blog (developers.google.com), diakses
- About Search Console Search Console Help (support.google.com), diakses
- Get started with Search Console Google Search Central (developers.google.com), diakses
- URL Inspection Tool Search Console Help (support.google.com), diakses
- Page indexing report Search Console Help (support.google.com), diakses
- site: search operator Google Search Central (developers.google.com), diakses



